Membangun Personal Branding Dengan Etika Komunikasi Yang Baik Di Era Digital
Abstract
The development of digital communication in the era of the Industrial Revolution 4.0 has made personal branding increasingly important for students in academic and professional settings. Social media platforms offer opportunities to showcase achievements, skills, and values, but their use is often not balanced with sufficient understanding of communication ethics. This article examines the role of ethical and effective communication in building positive personal branding through a qualitative descriptive approach and a case study of a TikTok content creator. The findings show that ethical communication is essential in shaping positive public perception, strengthening credibility, and sustaining personal branding in digital spaces.
Pendahuluan
Kemajuan teknologi digital di era Revolusi Industri 4.0 mengubah cara individu berinteraksi dan membangun citra diri, di mana keberhasilan profesional ditentukan tidak hanya oleh kompetensi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola persepsi publik melalui komunikasi yang terencana dan konsisten di media sosial.(Kusumajati et al., 2025). Platform seperti Instagram, LinkedIn, TikTok, dan X memungkinkan mahasiswa menampilkan prestasi, keterampilan, dan nilai karakter positif sehingga meningkatkan daya saing di dunia akademik dan kerja.(Pratama, 2023).
Namun, tingginya penggunaan media sosial belum diiringi pemahaman etika dan strategi personal branding yang tepat; Survei We Are Social 2024 menunjukkan usia 18–24 tahun mendominasi pengguna di Indonesia, tetapi banyak yang belum membangun citra diri secara profesional.(Alfarizzi & Fanaqi, 2025). Oleh karena itu, artikel berjudul “Membangun Personal Branding dengan Etika Komunikasi yang Baik di Era Digital” disusun untuk memberikan pemahaman dan panduan bagi remaja, khususnya mahasiswa, agar mampu memanfaatkan media digital secara bijak dalam membangun personal branding yang positif dan beretika.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara objektif tingkat pemahaman mahasiswa terkait pentingnya etika komunikasi dalam membangun personal branding. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan kami dapat memperoleh data numerik yang dapat dianalisis secara sistematis untuk menunjukkan keakuratan data, frekuensi, dan persepsi responden terhadap masalah yang dikaji.
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini didapatkan melalui analisis data kuisioner yang telah diisi oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung sebagai partisipan. Proses pengumpulan data dilaksanakan secara online menggunakan Google Form dengan maksud untuk mendapatkan gambaran serta mengevaluasi pemahaman mahasiswa terkait pentingnya etika komunikasi dalam membangun personal branding

Berdasarkan survei 35 responden, mayoritas telah memahami personal branding, dengan 45,7% paham dan 34,3% sangat paham, sementara 20% cukup paham. Hal ini menunjukkan tingkat pemahaman responden terhadap personal branding tergolong tinggi.

Hasil survei menunjukkan mayoritas responden menilai personal branding sangat penting (54,3%) dan penting (37,1%), sehingga dapat disimpulkan bahwa personal branding dipandang sebagai aspek yang krusial dalam kehidupan saat ini.

Hasil survei menunjukkan media sosial menjadi sarana utama membangun personal branding (85,3%), sedangkan LinkedIn dan lingkungan kampus/kerja digunakan oleh sebagian kecil responden.

Seluruh responden (100%) setuju bahwa komunikasi yang tidak etis dapat merusak personal branding, dengan mayoritas menyatakan sangat setuju. Ini menunjukkan pentingnya etika komunikasi dalam menjaga citra diri.

Hasil survei menunjukkan bahwa personal branding yang positif dibangun melalui penggunaan bahasa yang sopan, menghargai pendapat orang lain, dan bijak dalam menggunakan media sosial, sementara komunikasi kasar dan menjatuhkan orang lain tidak dianggap tepat.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap personal branding dan menilai personal branding sebagai aspek penting dalam kehidupan. Media sosial menjadi sarana utama pembentukan personal branding, dan etika komunikasi dipandang berperan penting karena komunikasi tidak etis dapat merusak citra diri. Untuk itu mari mengkaji lebih dalam tentang pentingnya etika komunikasi dalam membangun personal branding.
Implementasi Etika Komunikasi dalam Membangun Personal Branding yang baik
Menurut McNally dan Speak dalam Be Your Own Brand, personal branding yang kuat memungkinkan dunia mengenali dan menghargai jati diri seseorang. Personal branding penting bagi setiap individu dan perlu didukung komunikasi yang efektif agar tercipta kredibilitas, kepercayaan, dan daya tarik.(McNally, 2020)
Dapat disimpulkan bahwa personal branding merupakan suatu proses dalam membentuk identitas diri yang bernilai, unik, dan dipercaya. Tidak hanya promosi diri, personal branding mencakup kualitas, nilai hidup, serta konsistensi dalam membangun persepsi positif, sehingga menjadi aset penting yang membedakan individu dan mendukung keberhasilan karier maupun bisnis. (Branding et al., 2013)
Etika umumnya disebut sebagai akhlak, budi pekerti, filsafat moral atau filsafat nilai. Etika adalah suatu disiplin ilmu yang membahas pertimbangan nilai tertentu dari suatu tindakan atau perbuatan manusia.(Mutiarani et al., 2024). Etika membedakan manusia dari makhluk lain karena mencerminkan kualitas diri, nilai kepribadian, dan tujuan hidup yang luhur. Etika juga menjadi pedoman moral yang menyempurnakan rasio manusia dalam memilih kebaikan dalam kehidupan.(Ghulam Dzaljad et al., 2022) Dalam QS. Al-Isra’[17]:53, yang berbunyi:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ٥٣
Artinya: ” Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”. Dalam tafsir Ibnu Katsir beliau menerangkan bahwa Allah Swt memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw agar memerintahkan kepada hamba-hamba Allah yang beriman, hendaklah mereka dalam khotbah dan pembicaraannya mengucapkan kata-kata yang terbaik dan kalimat yang menyenangkan. Karena sesungguhnya jika mereka tidak melakukan hal mi, tentulah setan akan menimbulkan permusuhan di antara mereka dengan membakar emosi mereka, sehingga terjadilah pertengkaran dan peperangan serta keburukan.(TafsirIbnuKatsirJuz15suratAl-Isra1S.d.Al-Kahfi74.Pdf, n.d.)
Maka dari itu, etika komunikasi dalam personal branding sangat penting karena mendukung efektifitas kita dalam mendapatkan relasi yang luas. Selain itu, mendukung penilaian diri kita dimasyarakat apabila kita dapat menjalankan etika komunikasi dengan baik.(Salsaminia & Santosa, 2025)
Manfaat Menjaga Etika Komunikasi dalam Menciptakan Personal Branding
Menjaga etika komunikasi membangun fondasi personal branding yang positif melalui sikap sopan, jujur, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta citra diri yang dipercaya, dihargai, dan berdampak positif.(Ridaryanthi et al., 2025). Etika komunikasi yang baik mencegah konflik dan citra negatif, menjaga reputasi, serta memudahkan mahasiswa memperoleh pekerjaan dan berinteraksi dengan masyarakat. Personal branding yang kuat juga mendukung lahirnya technopreneur inovatif dan memudahkan pemasaran produk atau jasa.(Mutiarani et al., 2024)
Membangun personal branding berlandaskan etika komunikasi di era digital mencerminkan nilai kewarganegaraan serta memperkuat identitas nasional yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. (Kaelan, 2013). Etika komunikasi dalam personal branding harus selaras dengan nilai UUD 1945, seperti tanggung jawab, kesantunan, dan penghormatan martabat manusia, sehingga tidak hanya membangun citra positif individu, tetapi juga menciptakan ruang digital yang beradab. (Suyatno, 2020).
Analisis Etika Komunikasi dalam Membangunn Personal Branding (Studi Kasus Tiktok @ErikaRichardo)
Erika Richardo merupakan kreator konten dengan kepribadian positif, ceria, dan komunikatif dalam bermedia sosial. Konsistensi etika komunikasinya membangun hubungan kuat dengan pengikut di TikTok serta menunjukkan kepedulian pada nilai moral dan isu pendidikan, bukan sekadar popularitas.
Erika Richardo membangun personal branding yang kuat sebagai pelukis dan influencer inspiratif melalui spesialisasi seni lukis, keunikan karya, konsistensi, serta etika komunikasi yang baik, sehingga menciptakan citra diri yang positif, berkelanjutan, dan menginspirasi.(Asteya et al., n.d.)
Tantangan dan Solusi dalam Membangun Personal Branding di Era Digital
Meski menunjukkan keberhasilan, personal branding mahasiswa masih menghadapi kelemahan seperti kurangnya pemahaman strategi, inkonsistensi konten, dan keterbatasan keterampilan digital, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur untuk menghadapi risiko persepsi negatif dan persaingan konten. (Hasdiansa et al., 2025).
Beberapa solusi untuk mengatasi tantangan personal branding antara lain melalui kegiatan KKN sebagai sarana membangun citra positif, konsistensi, dan profesionalisme. Selain itu, strategi SWOT dapat diterapkan dengan memaksimalkan kreativitas konten, mengoptimalkan media sosial, serta memberikan pelatihan intensif tentang personal branding dan komunikasi digital. Penerapan strategi berbasis analisis SWOT menjadi penting agar kekuatan dan peluang dapat dimanfaatkan secara maksimal, sementara kelemahan dan ancaman dapat diminimalkan.(Muharromah & Yunita, 2023)
Daftar Referensi
Alfarizzi, R., & Fanaqi, C. (2025). Workshop Personal Branding di Era Digital untuk Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. 5636(1), 133–146.
Asteya, P. C., Sitanggang, R. A., & Silaen, A. P. (n.d.). ANALISIS ETIKA KOMUNIKASI DALAM MEMBANGUN PERSONAL BRANDING ( STUDI KASUS TIKTOK.
Branding, M. P., Branding, M. P., & Branding, D. P. (2013). Mengenal Personal Branding Oleh : Muhammad Adam Hussein , S . Pd Penulis Buku Fenomena Remaja Guru Cinta Indonesia Termuda.
Efendi, Y., Ismail, J., Menara, A., No, C., Tim, C., Minggu, P., Jakarta, K., Khusus, D., & Jakarta, I. (2025). Optimalisasi Personal Branding Dosen dan Alumni dalam Pembentukan Brand Awareness Universitas Melalui Platform Digital Program Studi Ilmu Komunikasi , Universitas Ary Ginanjar , Indonesia sosial dalam membangun citra diri yangpositif.Misalnya,studio. https://ejournal.appisi.or.id/index.php/Komunikasi/article/view/201
Ghulam Dzaljad, R., Firmantoro, V., Rahmawati, Y., Pranawati, R., Setiawati, T., Tiara, A., Mustika, S., Prasetya, H., Hariyati, F., Qusnul Khotimah, W., Dwi Fajri, M., Khohar, A., & Dwi Agustini, V. (2022). Etika Komunikasi: Sebuah Paradigma Integratif. In Gramasurya.https://share.google/T1WUKxcAx0hGHUVzi
Hasdiansa, I. W., Hasbiah, S., Aswar, N. F., Riu, I. A., & Rauf, D. I. (2025).
Penguatan personal branding mahasiswa Universitas Negeri Makassar melalui optimalisasi media sosial. Pemberdayaan Masyarakat: Jurnal Aksi Sosial, 2(4), 129–140. https://doi.org/10.62383/aksisosial.v2i4.2540
Hidayat, R., & Prasetyo, A. (2021). Etika komunikasi dalam membangun personal branding di era digital. Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(2), 123–134.
Hobbs, R. (1998). Building citizenship skills through media literacy education. The Public Voice in a Democracy at Risk, 57–76.https://share.google/QT8UhknjEmFwb8LP2
Kusumajati, H., Jannatania, J., Pamulang, U., & Pamulang, U. (2025). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Branding dan Komunikasi Siswa Tingkat Sekolah Menengah. 5, 80–90. https://share.google/4Onbf6usooPEkSzdh
McNally. (2020). BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Personal Branding McNally dan Speak. 2002, 11–22.
Muharromah, I. A., & Yunita, Y. (2023). Pemanfaatan Media Sosial sebagai Upaya Meningkatkan Personal Branding. Wistara: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 4(1), 96–101.https://doi.org/10.55123/abdisoshum.v4i3.6466
Mutiarani, U. P., Karimah, N., & Syarafa, Y. P. (2024). Etika Komunikasi Dalam Penggunaan Media Sosial di Kalangan Mahasiswa. 2.
Pratama, G. (2023). Pentingnya Membangun Personal Branding di Media Sosial. Kumparan.Com, 1–6.
Ridaryanthi, M., Tresnawati, Y., Setiawan, T., Komunikasi, I., Ilmu Komunikasi, F., Mercu Buana, U., & Cabang Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, K. (2025). Penguatan Etika Digital dalam Membangun Personal Branding Remaja di Media Sosial melalui Pendekatan Digital Public Relations. ABDISOSHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sosial Dan Humaniora, 4(3), 438–444. https://doi.org/10.55123/abdisoshum.v4i3.6466
Salsaminia, & Santosa, A. (2025). Pengaruh Penggunaan Media Sosial, Keterampilan Komunikasi Digital, dan Personal Branding Terhadap Employability Generasi Z di Daerah Istimewa Yogyakarta. Journal of Indonesian Management, 5(1), 18. https://doi.org/10.53697/jim.v5i1.2228
Sarbaini. (2007). Pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi: Membina karakter berbangsa dan bernegara. Bandunghttps://www.academia.edu/40932635/BUKU_PENDIDIKAN_KEWARGANEGARAAN
Sari, D. P., & Setiawan, D. (2020). Pendidikan karakter di era digital. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 1–10.
Suyatno. (2020). Etika komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat di era digital. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 10(2), 85–94.
TafsirIbnuKatsirJuz15suratAl-isra1S.d.Al-kahfi74.pdf. (n.d.).https://share.google/Q0EnFnXvY060uuPwJ
Yusuf, H. B., & Sholikhah, L. D. (2020). Pengembangan media bimbingan interaktif pendidikan seks berbasis literasi digital untuk kelas atas sekolah dasar.https://scholar.google.co.id/citations?user=uHviqAcAAAAJ&hl=id&authuser=1
Tautan Google Docs Kelompok 1 Etika Sosial / Etika Pergaulan Universitas Muhamadiyah Bandung
